Laman

Jumat, Juli 9

Sebelas tiga puluh tadi malam
Terdengar nafas celotehan kasar kalian di dalam ruangan 6x8 meter yg dijejali berpuluh puluh kayu kotak.
Kupandangi 33 pasang bola mata kalian kumasuki mulai dari selaput, pupil, retina hingga sistem syaraf yg terhubung dengan lubuk dalam yg disebut hati.
Aku tau kalian sekarang. Kalian tak lebih dari seorang pemimpi, seorang pembual besar.
Tapi aku juga melihat kalian sebagai seorang makhluk yang istimewa yang diciptakan tuhan untuk kami.
Kalian memberikan sebuah sinar segar pada pagi di saat cendawan besar yg menutupi ultraviolet masuk menerjang kulit para penduduk kota hiroshima saat di bom atom tentara sekutu.
Menenangkan hati laksana perasaan petani mendengar gemericik air membasahi sawahnya saat kemarau panjang.
Ah itu hanya metafora, hanya rasa semu, hanya fatamorgana, semua tak bsa terulang.
Jujur aku merindukan saat dmana kita menunggu bel istirahat atau pulang. Aku rindu dmana kita selalu mengobrolkan hal yang tak penting sekalipun...
Aku menunggu kbar dri kalian kawan

doeaempatjoenidoearieboesembielan

Thats enough itu kata yg saya lemparkan pada anda...
Saya muak dngan smua kbusukan dari jajaran etalase diskon harga janji murah anda
Saya bosan dngan permintaan janji2 waduk yang anda minta pada saya dan anda sendiri yang telah melanggarnya
Saya merasa aneh karena saya telah menjadi kuda laut yg entah kmna akan pergi tbwa arus air...
Saya merasa bodoh
Bodoh sekali hingga terasa ingin terus mengangkat jari untuk bertanya kepada anda why you do it to me...
Saya bisa untuk berkata itu lebih awal namun saya dapat menahan.a.
Apa boleh buat anda yang menanam benih maka anda sendiri yang akan menuai hasilnya
Untuk anda terakhir kalinya saya berterima kasih seperti kertas ucapan terimakasih dari kedua mempelai yang bertempelkan permen satu biji...
Dan saya merasa bangga karena anda telah mau menjadi bintang di malam saya walaupun itu tdak lama karena fajar telah siap menjemput malam
24 june 09