Laman

Jumat, Juli 9

Sebelas tiga puluh tadi malam
Terdengar nafas celotehan kasar kalian di dalam ruangan 6x8 meter yg dijejali berpuluh puluh kayu kotak.
Kupandangi 33 pasang bola mata kalian kumasuki mulai dari selaput, pupil, retina hingga sistem syaraf yg terhubung dengan lubuk dalam yg disebut hati.
Aku tau kalian sekarang. Kalian tak lebih dari seorang pemimpi, seorang pembual besar.
Tapi aku juga melihat kalian sebagai seorang makhluk yang istimewa yang diciptakan tuhan untuk kami.
Kalian memberikan sebuah sinar segar pada pagi di saat cendawan besar yg menutupi ultraviolet masuk menerjang kulit para penduduk kota hiroshima saat di bom atom tentara sekutu.
Menenangkan hati laksana perasaan petani mendengar gemericik air membasahi sawahnya saat kemarau panjang.
Ah itu hanya metafora, hanya rasa semu, hanya fatamorgana, semua tak bsa terulang.
Jujur aku merindukan saat dmana kita menunggu bel istirahat atau pulang. Aku rindu dmana kita selalu mengobrolkan hal yang tak penting sekalipun...
Aku menunggu kbar dri kalian kawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar